<span data-metadata=""><span data-buffer="">Pendekatan Kerangka Kerja Logis (Logical Framework Approach) dan Penganggaran
Ide Kunci :
<span data-metadata=""><span data-buffer="">Pengertian berpikir kritis, pentingnya berpikir kritis, unsur-unsur dalam berpikir kritis, praktik berpikir kritis, penjelasan identifikasi masalah secara umum, pengenalan metode logical framework, pentingnya pendekatan kerangka kerja logis, gambaran kerangka kerja logis, deskripsi alur keuangan, pengertian analisis dasar, pentingnya penyusunan analisis dasar, contoh-contoh penerapan analisis dasar, studi kasus penerapan analisis dasar, pengertian analisis SWOT dan SMART, perbedaan antara SWOT dan SMART, pentingnya mempelajari analisis SWOT dan SMART, praktik penerapan analisis SWOT dan SMART
<span data-metadata=""><span data-buffer="">Tujuan pembelajaran :
- Menjelaskan pengertian berpikir kritis.
- Menyebutkan pentingnya berpikir kritis.
- Menunjukkan unsur-unsur dalam berpikir kritis.
- Melakukan praktik berpikir kritis isu HKSR dan remaja.
- Menjelaskan pentingnya pendekatan kerangka kerja logis dan keuangan serta analisis dasar.
- Menerapkan teori perubahan sebagai dasar kerangka kerja logis.
- Menunjukkan contoh pendekatan kerangka kerja logis dan keuangan.
- Menyebutkan pentingnya penyusunan analisis dasar.
- Menggambarkan penerapan analisis dasar melalui studi kasus isu HKSR.
- Menjelaskan pengertian analisis SWOT dan SMART.
- Menggambarkan praktik penerapan analisis SWOT dan SMART terkait isu HKSR.
<span data-metadata="">Output :
- Peserta memahami tentang konsep kesadaran berfikir manusia yang populer berkat pemikiran Paulo Freire, seorang pendidik dan filsuf asal Brasil.
- Peserta mengenali konsep berfikir kritis dengan beberapa metode pemetaan masalah terutama terkait penentuan masalah utama, irisan masalah, interseksionalitas masalah, dan aktor berpengaruh dalam masalah.
- Peserta mampu mengkritisi masalah dengan menggunakan metode Analisis SWOT untuk menguji kapasitas saat ini dan SMART untuk menguji rancangan tujuan masa depan.
- Peserta dapat membuat rancang bangun dari konsep masalah yang telah teruji kedalam matriks kerangka kerja logis
- Peserta dapat menyusun Rencana kerja dan keuangan dari bentuk kegiatan-kegiatan yang telah ditentukan dalam kerangka kerja logis
<span data-metadata="">Alat & Bahan:
- Alat Bantu: Lembar bacaan, whiteboard, metaplan, kertas plano, spidol, sticky note
<span data-metadata="">Metode:
<span data-metadata="">Brainstorming, Diskusi kelompok, Presentasi
<span data-metadata=""><span data-metadata=""><span data-buffer="">Langkah - Langkah Sesi
Kegiatan Awal
<span data-metadata="">Langkah-langkah
<span data-metadata=""><span data-metadata=""><span data-buffer="">1. Mengenali konsep kritis:
<span data-metadata=""><span data-metadata=""><span data-buffer="">Fasilitator mengajukan pertanyaan sederhana seperti:
- Fasilitator memulai dengan memperkenalkan model pembelajaran yang membebaskan dengan pendekatan pembelajaran orang dewasa (andragogi) dimana setiap orang adalah sumber pengetahuan, berbeda dari sistem pembelajaran normatif yang diajarkan sekolah dimana guru merupakan sumber pengetahuan dan murid menyerap sepenuhnya (pedagogi)
- Fasilitator mengajak peserta untuk mengenali konsep Tingkat kesadaran berfikir manusia terdiri dari kesadaran Magis, kesadaran Naif dan kesadaran kritis
- Fasilitator menjelaskan bahwa berfikir dengan kesadaran kritis merupakan pondasi dalam membangun kerangka kerja logis berbasis pemetaan masalah.
Kegiatan Inti
<span data-metadata="">Langkah-langkah
<span data-metadata="">2. Bermain dengan kartu:
<span data-metadata=""><span data-metadata=""><span data-buffer="">Fasilitator melakukannya seperti:
- Fasilitator membagikan peserta 2 jenis kartu metaplan kepada seluruh peserta terdiri dari : Kartu merah untuk statement yang bersifat mitos, tabu, ataupun hoax seputaran isu seksualitas, kesehatan reproduksi dan remaja. Kartu putih untuk statement yang bersifat peristiwa fakta seputaran isu seksualitas, kesehatan reproduksi dan remaja.
- Fasilitator meminta peserta untuk menempelkan kartu-kartu tersebut dengan mengelompokkannya berdasarkan kategori kesadaran Magis, Naif dan kritis. Catatan penting : bisa saja kartu merah berubah menjadi statement kesadaran kritis ketika kalimatnya dirubah menjadi kalimat positif.
- Seluruh Kartu-kartu yang ada di kategori kesadaran kritis ditarik dan didiskusikan lebih mendalam secara berkelompok untuk menentukan 2 kartu yang dipilih sebagai masalah utama
- Peserta dibagi menjadi 2 kelompok dan masing-masing kelompok diberi 1 masalah utama untuk didiskusikan lebih rinci dengan menggunakan metode analisa pohon masalah
- Masing-masing peserta diminta untuk “belanja masalah" dari kartu-kartu yang tersedia dikategori magis dan naif dan dapat menuliskannya kembali dalam redaksional yang lebih sederhana dengan kata kunci “akibat” untuk ditempatkan pada posisi buah dari pohon masalah dan kata kunci “sebab” untuk ditempatkan pada posisi akar dari pohon masalah.
- Peserta kembali mempertajam analisis masalahnya dengan model pendekatan Tulang Ikan (fishbone) untuk semua kartu-kartu dibagian akar untuk menemukan gambaran interseksionalitas antar penyebab masalah.
- Peserta juga kembali mempertajam analisis masalahnya dengan model pendekatan diagram venn untuk semua kartu-kartu dibagian buah untuk menemukan gambaran irisan antar akibat yang ditimbulkan masalah tersebut.
- Fasilitator meminta peserta untuk merangkai narasi dengan bahasan kekinian dari beberapa pokok pikiran masalah yang ditemukan dalam metode pohon masalah, Tulang ikan dan diagram venn
- Fasilitator meminta perwakilan peserta 5 orang untuk melakukan proses simulasi penelusuran pola dan trend yang berkembang dari masing-masing pokok pikiran masalah yang telah ditetapkan dengan cara menemui beberapa peserta lain yang berperan sebagai aktor yang layak dijadikan sebagai narasumber terkait topik tersebut (metode transek)
- 5 orang perwakilan masing-masing akan menceritakan hasil penelusurannya terutama terkait sejarah, pola perubahan yang terjadi dari waktu kewaktu, timeline, dll
-
Fasilitator mengajak peserta untuk masuk pada tahapan uji kapasitas dalam mensikapi pokok-pokok pikiran masalah tersebut. Sebelumnya fasilitator telah menyusun pokok-pokok masalah tersebut dalam format Cluster dan Sub-Cluster. Matrix Analisis SWOT disediakan dalam kertas plano dan peserta mengisi pandangannya berdasarkan ketentuan warna :
-BIRU : KEKUATAN (STRENGTH),
-MERAH : KELEMAHAN (WEAKNESS),
-PUTIH : PELUANG (OPPORTUNITY)
-KUNING : ANCAMAN (THREAT), - Fasilitator menjelaskan beberapa hal sebagai pengantar untuk menjembatani menuju alur berikutnya yaitu: Untuk kartu-kartu biru harus segera diatasi sendiri dan menjadi sumber kekuatan internal Untuk kartu-kartu merah harus menjadi pertimbangan khusus karena menjadi beban dan membutuhkan dukungan eksternal yang bersifat ketergantungan Untuk kartu-kartu kuning harus ditemukan langkah-langkah mitigasi karena memiliki unsur asumsi dan resiko Untuk Kartu-kartu putih dapat menjadi pilihan rancangan jangka panjang dan direkomendasikan sebagai tujuan perencanaan kerangka kerja logis
- Fasilitator memberikan pengantar awal tentang kerangka kerja logis dan menjelaskan komponen-komponennya (terlampir)
- Peserta dibagi menjadi 2 kelompok untuk menyusun matriks Logframe berdasarkan analisis SWOT sebelumnya dan mempresentasikannya
- Sebelum Peserta bekerja secara berkelompok, Fasilitator memberikan pengantar tentang metode analisis SMART untuk memastikan peserta dapat secara mandiri menguji logika narasi pernyataan-pernyataan yang ditetapkan
- Hasil kerja kelompok ditampilkan dan masing-masing kelompok dapat memberikan catatan-catatan kecil (menggunakan sticky note) di kelompok lainnya
Kegiatan Penutup
<span data-metadata="">Langkah-langkah
<span data-metadata="">3. Merefleksikan diri:
<span data-metadata=""><span data-metadata=""><span data-buffer="">Fasilitator melakukannya seperti:
- Fasilitator mengajak peserta untuk merefleksikan proses kegiatan dan pembelajaran yang dirasakan