<span data-metadata=""><span data-buffer="">Dukungan Psikologis Awal
Ide Kunci :
<span data-metadata=""><span data-buffer="">Pengertian dukungan psikologis, pentingnya dukungan psikologis, bentuk-bentuk dukungan psikologis, praktik memberikan dukungan psikologis
<span data-metadata=""><span data-buffer="">Tujuan pembelajaran :
- Menjelaskan pengertian dukungan psikologis.
- Menyebutkan pentingnya dukungan psikologis.
- Menunjukkan bentuk-bentuk dukungan psikologis
- Melakukan praktik memberikan dukungan psikologis.
<span data-metadata="">Output :
- Pemahaman mengenai prinsip dasar dukungan psikologis awal dalam situasi bencana.
- Memiliki keterampilan mendengar aktif, empati, dan komunikasi efektif.
- Memiliki kesiapan dalam mengenali dan merespons kebutuhan dasar psikologis korban.
- Memiliki pemahaman atas batasan peran relawan remaja dan kapan harus merujuk ke pihak profesional.
<span data-metadata="">Alat & Bahan:
- Alat Bantu: Laptop, pulpen/pensil,spidol,sticky note,papan tulis.
<span data-metadata="">Metode:
<span data-metadata="">Presentasi,diskusi,tanya jawab,role play
<span data-metadata=""><span data-metadata=""><span data-buffer="">Langkah - Langkah Sesi
Kegiatan Awal
<span data-metadata="">Langkah-langkah
<span data-metadata=""><span data-metadata=""><span data-buffer="">1. Sesi Pembuka (Pemantik Diskusi):
<span data-metadata=""><span data-metadata=""><span data-buffer="">Fasilitator membuka kegiatan seperti:
- Fasilitator memberikan pengantar tentang DPA
-
Fasilitator menjelaskan menegnai sejarah dan definisi DPA
-Mengapa DPA penting di situasi bencana.
-Peran relawan remaja dalam memberikan dukungan psikologis awal. -
Fasilitator membuka sesi tanya jawab :
“PENYINTAS? Apakah itu? Mengapa kita menggunakan kata Penyintas sementara yang kita hadapi adalah Korban Bencana? -
Fasilitator membuat sesi diskusi kelompok dan latihan. Diskusi kelompok:
"Bagaimana perasaan seseorang yang baru saja mengalami bencana?"
Kegiatan Inti
<span data-metadata="">Langkah-langkah
<span data-metadata="">2. Studi kasus dan simulasi :
<span data-metadata=""><span data-metadata=""><span data-buffer="">Fasilitator menjelaskan dan mencontohkan simulasi seperti:
- Fasilitator melanjutkan materi berikutnya yaitu membantu relawan memahami reaksi umum terhadap bencana.
- Setelah fasilitator menjelaskan pembahasan menegenai reaksi normal (emosional, fisik, dan perilaku) pada korban bencana, Faktor-faktor yang memengaruhi tingkat stres (usia, jenis kelamin, pengalaman masa lalu)
-
Fasilitator dan peserta akan melakukan studi kasus dan simulasi
-Identifikasi reaksi korban berdasarkan skenario yang diberikan. -
Simulasi: Peserta bermain peran sebagai korban dan relawan menggunakan metode Look, Listen, Link.
Simulasi: Peserta bermain peran sebagai korban dan relawan menggunakan metode Look, Listen, Link. -
Fasilitator memberikan simulasi kepada peserta menegnai Look,Listen,Link
Look (KENALI) Latihan Interaktif: Diskusi kelompok: "Anda menemukan seorang ibu yang duduk di pinggir jalan setelah gempa. Dia terlihat bingung dan tidak merespons ketika diajak bicara."
Listen (DENGARKAN) Latihan Interaktif: Simulasi roleplay: Peserta dibagi menjadi pasangan. Satu orang menjadi penyintas, satu orang menjadi relawan PFA. Skenario: "Penyintas terus-menerus menangis dan merasa panik karena kehilangan kontak dengan keluarganya." Relawan harus menggunakan teknik Listen untuk mendengarkan dan menenangkan penyintas. Setelah 5 menit, tukar peran dan diskusikan pengalaman masing-masing.
Link (HUBUNGKAN) Latihan Interaktif: Studi kasus: Berikan peserta situasi seperti: "Seorang anak yang terpisah dari keluarganya merasa cemas dan takut." Tugas kelompok: Diskusikan langkah-langkah Link yang dapat membantu anak tersebut. Hasil diskusi disampaikan dalam bentuk peta langkah atau diagram alur. Fasilitator membrikan tugas kelompok : Kenali rekan seperjuangan di lapangan, buat daftar, isu dan penerima manfaat - Fasilitator mengembangkan keterampilan komunikasi yang mendukung DPA yaitu Prinsip Mendengar aktif,Prinsip Empati, Komunikasi verbal dan nonverbal.
-
Fasilitator memberikan Latihan:
-Peserta mencoba merespons korban dengan menggunakan teknik mendengarkan aktif.
-Latihan , fasilitator memberikan pertanyaan : Kamu adalah seorang relawan remaja. Ada seorang anak kecil yang menangis karena terpisah dari orang tuanya. Apa yang akan Kamu lakukan? Tuliskan langkah-langkah yang bisa Kamu lakukan untuk membantu anak tersebut.
-fasilitator memberikan pesan Untuk Remaja : Tidak ada bantuan yang terlalu kecil saat bencana melanda. Bahkan sebuah senyuman tulus dan kalimat sederhana seperti “Saya di sini untuk membantu” bisa menjadi awal dari pemulihan seseorang. Jadi, siapkah Kamu menjadi bagian dari tim Kemanusiaan PKBI?
Kegiatan Penutup
<span data-metadata="">Langkah-langkah
<span data-metadata="">3. Sesi Tanya jawab (meninjau kembali materi):
<span data-metadata=""><span data-metadata=""><span data-buffer="">Fasilitator bertanya kepada peserta seperti:
- Membantu peserta memahami kapan dan bagaimana melakukan rujukan ke profesional.
- Fasilitator membuka sesi tanya jawab dan diskusi untuk mengidentifikasi situasi di mana relawan tidak bisa menangani sendiri.
- Fasilitator melatih peserta menjaga kesehatan mental mereka sendiri selama menjadi relawan.
-
Fasilitator menrikan Latihan:
-Panduan meditasi singkat atau mindfulness. - Fasilitator meninjau kembali materi pelatihan dan memastikan pemahaman dan kesiapan peserta (Penutup).
- Fasilitator memberikan Kegiatan: Uji keterampilan melalui simulasi skenario bencana.